PENGELOLAAN SDM DALAM ORGANISASI BERDASAR PADA ANGGOTA KELUARGA
Organisasi yang yang beranggotakan keluarga sejatinya adalah
pertemuan antara dua institusi sosial, yakni institusi Organisasi dan keluarga.
Keduanya memiliki nilai-nilai dan tujuan yang bertolak belakang. Hubungan dalam
organisasi bersifat rasional, sementara dalam keluarga bersifat emosional.
Keanggotaan keluarga berdasarkan pada faktor keturunan dan berlangsung nyaris
tanpa batas waktu. Sementara keanggotaan dalam organisasi didasarkan pada
kompetensi dan hanya berlangsung dalam jangka waktu tertentu.
Fungsi utama keluarga adalah untuk memenuhi kebutuhan serta
menumbuhkan rasa kepedulian dan kasih sayang bagi para anggotanya. Sementara
fungsi utama dari organisasi adalah untuk menghasilkan produk yakni kegiatan melalui
struktur, sistem, dan proses yang terencana dan terorganisir. Kontradiksi
nilai-nilai dan tujuan dari keluarga dan organisasi ini sering mempengaruhi
efektifitas pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dalam Organisasi.
Seperti diketahui, perencanaan SDM dalam sebuah Organisasi
mencakup kebijakan seperti rekrutmen dan seleksi, penilaian kinerja, pengembangan karir, serta
pelatihan dan pengembangan. Namun dalam Organisasi keluarga, faktor hubungan
emosional keluarga acapkali berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan tersebut.
Akibatnya praktek nepotisme tumbuh subur.
Dalam hal rekrutmen dan seleksi, seringkali anggota keluarga
merasa berhak untuk menjadi bagian dari Organisasi. Dengan alasan sulitnya mencarai
calon pimpinan (pengurus), mereka ditempatkan dalam Organisasi tanpa
mempertimbangkan kompetensi yang dimiliki dengan alasan prinsip-prinsip
keluarga yang mengharuskan anggota keluarga untuk saling membantu tanpa syarat.
Padahal demi kemajuan Organisasi, jelas diperlukan individu-individu yamg mumpuni,
yang untuk memenuhinya seringkali harus direkrut dari luar keluarga. Perekrutan
individu-individu yang tidak kompeten dalam jumlah terlalu banyak ini tentu
saja akan mengancam kinerja dan bahkan eksistensi Organisasi.
Kompensasi yang diberikan pada anggota keluarga sering
didasarkan pada prinsip dan kriteria yang mencampuradukkan urusan keluarga dan
organisasi. Kondisi menjadi lebih buruk manakala kompensasi yang diberikan
tidak seimbang dengan kontribusi yang dituntut. Akan muncul rasa ketidakadilan,
yang pada gilirannya bakal merusak salah satu pilar budaya Organisasi, yaitu
perlunya kepercayaan. Rendahnya kepercayaan akan mempengaruhi iklim Organisasi,
mempengaruhi kepuasan kerja, motivasi, dan kinerja.
Dalam hal penilaian kinerja, organisasi yang beranggotakan keluarga
acapkali mengalami kesulitan tatkala mereka mencoba mengevaluasi
anggota-anggota keluarga dekat yang bekerja dalam Organisasi. Konsep penilaian
kinerja dalam konteks institusi keluarga sungguh absurd. Status seorang
individu dalam sebuah keluarga ditentukan oleh siapa dia ketimbang apa yang
telah ia lakukan. Sementara penilaian kinerja dalam institusi bisnis
ditentukan oleh sejauh mana kontribusi seorang pimpinan/pengurus bagi kemajuan Organisasi.
Bila seorang pemimpin atau pimpinan
dalam Organisasi yang beranggotakan keluarga harus menilai kinerja anggota
keluarganya, hasil penilaian berpotensi mengalami bias. Kesulitan Pemimpin dalam
membuat penilaian semacam ini diperburuk oleh masalah informasi. Masalah akan
muncul manakala pimpinan non-keluarga menutup-nutupi ketidakkompetenan anggota
keluarga, umpamanya demi mengamankan posisi atau aktifitasnya.
Pemimpin Organisasi keluarga juga acap menemui kesulitan dalam
menentukan pelatihan dan pengembangan bagi anggota keluarga dalam hal
memisahkan kepentingan individu dan kepentingan organisasi. Dari sudut pandang
keluarga, pelatihan terhadap anggota keluarga harus berfokus pada apa yang
terbaik bagi anggota keluarga tersebut secara individu, lepas dari kebutuhan Organisasi.
Sementara dari sudut pandang Organisasi, pelatihan harus menekankan pada
pengalaman pembelajaran yang akan meningkatkan kemampuan individu untuk
mencapai tujuan organisasi. Sering terjadi, kebutuhan pelatihan dan
pengembangan individu anggota keluarga tidak selaras dengan kebutuhan pelatihan
dan pengembangan organisasi. Akibatnya, sumber daya menjadi terbuang sia-sia,
sementara kinerja Organisasi tidak mengalami perubahan berarti.
Buruknya manajemen SDM dalam Organisasi keluarga sudah tentu
menimbulkan dampak negatif seperti pecahnya konflik, situasi kerja yang tidak
kondusif, berkembangnya aneka intrik, dan tingginya tingkat penempatan pimpinan/pengurus. Kesemuanya bakal
berujung pada buruknya kinerja Organisasi.
Lantas usaha-usaha apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi
masalah-masalah di atas? Ada sejumlah hal yang dapat dilakukan. Dalam hal
seleksi anggota keluarga yang akan bekerja dalam Organisasi, pemimpin Organisasi
keluarga hendaknya hanya menerima mereka berdasarkan prinsip-prinsip organisasi semata. Hanya anggota keluarga yang
memiliki kompetensi yang relevan yang akan diterima bekerja dalam Organisasi.
Kompensasi bagi anggota keluarga yang juga harus lebih
didasarkan pada nilai-nilai organisasi ketimbang nilai-nilai keluarga. Yang
perlu ditekankan, tidak ada formula kompensasi tunggal untuk setiap Organisasi
keluarga. Setiap Organisasi harus mendesain sendiri sistem kompensasinya untuk
membantu pencapaian tujuan-tujuan Organisasi dan keluarga dalam pengertian yang
luas.
Dalam menilai kinerja, anggota keluarga yang bekerja di Organisasi
harus dievaluasi berdasarkan pada profesionalisme, seperti halnya pimpinan/pengurus
non keluarga. Untuk mengatasi potensi konflik akibat benturan antara
nilai-nilai keluarga dan nilai-nilai organisasi, penilaian terhadap kinerja
anggota keluarga harus mencakup opini dari para bawahan, rekan kerja, dan
atasan. Profesional non keluarga juga harus diberi peluang serta kebebasan
penuh dalam menilai kinerja anggota keluarga. Hal ini untuk menghindari bias
akibat penilaian yang hanya dilakukan oleh pemilik atau pemimpin Organisasi
keluarga.
Adalah penting untuk membuat perencanaan bagi pengembangan karir
anggota keluarga dalam Organisasi. Jalur karir bagi anggota keluarga harus
disesuaikan dengan tujuan Organisasi secara keseluruhan, baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang. Setiap anggota keluarga yang bekerja di Organisasi
yang minat dan kebutuhannya tidak sesuai dengan tujuan Organisasi harus
mempertimbangkan kembali status kepemimpinannya di Organisasi. Namun mereka
dapat diberi kesempatan untuk memperoleh status kedudukan, mengklaim bagian
aset keluarga untuk diinvestasikan guna mengejar tujuan profesional Organisasi.
0 komentar:
Posting Komentar